Latest News
Andalah Perahu Kokoh Itu
Sehebat apapun perahu diciptakan, tak ada gunanya bila hanya tertambat di dermaga. Sehebat apapun diri anda, tidak ada gunanya jika tertambat di masa lalu anda.
Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan dan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah masalah yang menantang. Di situlah tanda kesejatian teruji. Hakikatnya perahu adalah berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah berkarya menemukan pantai harapan anda.
Bunga Untuk Ibu
Hari itu adalah peringatan hari ibu, 22 Desember. Seorang pria berhenti di sebuah toko bunga, berniat memesan seikat bunga yang akan dipaketkan kepada sang ibu, yang tinggal jauh sekitar 250 km dari kotanya. Setelah turun dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar sambil menangis sesenggukkan. Pria itu bertanya, kenapa menangis, dan dijawab oleh si gadis, “Saya ingin membeli seikat karangan bunga untuk ibu saya. Tapi saya tidak punya uang.”
Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut saya, kebetulan saya juga akan membeli bunga, sekalian kita beli bunga untuk ibumu”. Gadis kecil itu bertanya, dengan mata berbinar, “benarkah?” pria itu menganggukkan kepala, sambil menggapai tangan gadis kecil itu dan menggandengnya menuju toko bunga. Ia pun memesan bunga untuk ibunya, sekaligus membelikan gadis itu bunga yang dikehendakinya.
Setelah selesai memesan bunga, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “terimakasih, maukah anda mengantarkan saya ke tempat ibu saya?”
Kemudian mereka berdua menuju ke tempat ibu gadis kecil itu, yang ternyata tidak lain adalah sebuah tempat pemakaman umum. Gadis itu berlari kecil menuju sebuah makam yang nampaknya masih basah, lalu ia bersimpuh dan meletakkan seikat bunga di atasnya.
Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan seketika ia teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali ke mobilnya dan segera menuju toko bunga tadi. Pria itu membatalkan kiriman bunga untuk ibunya, ia mengambil bunga yang dipesannya tadi dan segera mengendarai mobilnya seorang diri menjalani jarak tempuh 250 km menuju rumah ibunya.
Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut saya, kebetulan saya juga akan membeli bunga, sekalian kita beli bunga untuk ibumu”. Gadis kecil itu bertanya, dengan mata berbinar, “benarkah?” pria itu menganggukkan kepala, sambil menggapai tangan gadis kecil itu dan menggandengnya menuju toko bunga. Ia pun memesan bunga untuk ibunya, sekaligus membelikan gadis itu bunga yang dikehendakinya.
Setelah selesai memesan bunga, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “terimakasih, maukah anda mengantarkan saya ke tempat ibu saya?”
Kemudian mereka berdua menuju ke tempat ibu gadis kecil itu, yang ternyata tidak lain adalah sebuah tempat pemakaman umum. Gadis itu berlari kecil menuju sebuah makam yang nampaknya masih basah, lalu ia bersimpuh dan meletakkan seikat bunga di atasnya.
Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan seketika ia teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali ke mobilnya dan segera menuju toko bunga tadi. Pria itu membatalkan kiriman bunga untuk ibunya, ia mengambil bunga yang dipesannya tadi dan segera mengendarai mobilnya seorang diri menjalani jarak tempuh 250 km menuju rumah ibunya.
This is the time for Happiness,not tomorrow or latter !
Posted by Yafiz
on
Dec 20, 2009
, under
Inspiration
|
comments (0)
"Happiness is a journey, not a destination; happiness is to be found along the way not at the end of the road, for then the journey is over and it's too late. The time for happiness is today not tomorrow." ~ (Paul H Dunn )
AVG Anti-virus 9.0
Komputer siapapun tidak pernah bebas dari ancaman virus dan program perusak lainnya.Dampak merusak dari virus sangat beragam mulai yang ringan, sekadar mengganggu kinerja komputer hingga merusak/menghilangkan file-file kesayangan kita.
AVG Anti-virus 9.0 saat ini dapat menjadi solusi efektif untuk mencegah dan mengatasi virus di komputer anda.
Download dan install programnya gratis klik di sini.
Entrepreneurship at universities should reach all faculties
Posted by Yafiz
on
Dec 15, 2009
, under
Entrepreneurship
|
comments (0)
by:Allan Gibb
United Kingdom
Germany needs more entrepreneurs. But while recent surveys agree that 25% to 30% of young scientists have good chances for creating a start-up, only 5% currently dare to take this step. In our ongoing series, Next Wave Germany and the Berlin Institute of Entrepreneurship have invited leading experts to discuss ways in which the culture of entrepreneurship can be fostered at German universities. This week, Allan Gibb, professor at Durham University and chair of the Small Business Centre at Durham University Business School, United Kingdom, tells us how entrepreneurship challenges students of all faculties to make sense of things in innovative ways.
This proposition challenges us to review the overall mission of universities. If we are to propose a central place for entrepreneurship right across the curriculum, it must relate to the fundamentals of university life. Can entrepreneurship measure up in this respect?
My answer is 'yes' on two grounds. First, I would argue that the mission of universities is not only about the scholarship of discovery (research) and teaching in the narrow sense of the pursuit of excellence within the various disciplines. It is also about the scholarship of relevance and the scholarship of integration. Both are central to the notion of the university as a learning (as opposed to a learned) organisation.
A learning organisation is one that is open to all sources of knowledge, including experience. Pursuing the relevance of research and teaching demands insight into practice, feedback from implementation of research results, and information from developments outside of the research. Through pursuit of this objective, teaching also becomes more relevant. Secondly, the university as a true learning organisation is also one that challenges intellectually across the disciplines. It has long been recognized that the provision of knowledge is insufficient in a university context--it is the ability to use this knowledge that is at the heart of the university mission. Thus integration and multidisciplinarity are central to the university endeavor.
How does entrepreneurship enhance this view of a university?
First, by its focus on the nurturing of entrepreneurial behaviors in students, it demands an approach to learning that stimulates creativity and innovation, problem-solving, and opportunity-seeking capacities,maximizes student ownership of learning,encourages initiative taking and independent thinking,stimulates active learning by doing and finding applications,demands an holistic and therefore multidisciplinary approach,encourages networking, and encourages learning from 'know who' and 'know how' as well as from 'know what' and 'know why'.
Entrepreneurship therefore helps to create insight. Overall, it challenges students to put different kinds of knowledge together and make sense of things in innovative ways. Such approaches to learning are relevant right across all faculties and subjects.
Second, it provides a vehicle for the university to reach out to the community to apply and test its knowledge. The doctoral engineering student who seeks to test whether his/her idea works in practice as well as in theory is pursuing the scholarship of relevance and, inevitably, of integration. The department that creates partnerships with key stakeholders in the environment, whether it be the department of theology or geology, is grasping the opportunity for integration and wider learning.
If we allow entrepreneurship to engage across the university, will it not contaminate research and teaching with a business/commercial ethic?
This is a frequently asked question and it deserves a clear answer. The most important response is that entrepreneurship is first and foremost about stimulating enterprising behaviors and designing organisations that allow these behaviors to become an effective means for social and economic development. This is not corporate business. In my view entrepreneurial behavior has its place in all walks of life, from church to school to social services and also to business. Its place in new business venturing is well established and will play a part in any university programme. But to claim a place across all of the university curriculum demands a broader conceptualisation. Such conceptualisation is probably central to acceptance by university staff of all departments and political and ideological outlooks. It is also central for those who are leading the charge to introduce entrepreneurship more broadly into the academic curriculum. Too narrow a focus may mean that in the long run there will be little real progress.
United Kingdom
Germany needs more entrepreneurs. But while recent surveys agree that 25% to 30% of young scientists have good chances for creating a start-up, only 5% currently dare to take this step. In our ongoing series, Next Wave Germany and the Berlin Institute of Entrepreneurship have invited leading experts to discuss ways in which the culture of entrepreneurship can be fostered at German universities. This week, Allan Gibb, professor at Durham University and chair of the Small Business Centre at Durham University Business School, United Kingdom, tells us how entrepreneurship challenges students of all faculties to make sense of things in innovative ways.
This proposition challenges us to review the overall mission of universities. If we are to propose a central place for entrepreneurship right across the curriculum, it must relate to the fundamentals of university life. Can entrepreneurship measure up in this respect?
My answer is 'yes' on two grounds. First, I would argue that the mission of universities is not only about the scholarship of discovery (research) and teaching in the narrow sense of the pursuit of excellence within the various disciplines. It is also about the scholarship of relevance and the scholarship of integration. Both are central to the notion of the university as a learning (as opposed to a learned) organisation.
A learning organisation is one that is open to all sources of knowledge, including experience. Pursuing the relevance of research and teaching demands insight into practice, feedback from implementation of research results, and information from developments outside of the research. Through pursuit of this objective, teaching also becomes more relevant. Secondly, the university as a true learning organisation is also one that challenges intellectually across the disciplines. It has long been recognized that the provision of knowledge is insufficient in a university context--it is the ability to use this knowledge that is at the heart of the university mission. Thus integration and multidisciplinarity are central to the university endeavor.
How does entrepreneurship enhance this view of a university?
First, by its focus on the nurturing of entrepreneurial behaviors in students, it demands an approach to learning that stimulates creativity and innovation, problem-solving, and opportunity-seeking capacities,maximizes student ownership of learning,encourages initiative taking and independent thinking,stimulates active learning by doing and finding applications,demands an holistic and therefore multidisciplinary approach,encourages networking, and encourages learning from 'know who' and 'know how' as well as from 'know what' and 'know why'.
Entrepreneurship therefore helps to create insight. Overall, it challenges students to put different kinds of knowledge together and make sense of things in innovative ways. Such approaches to learning are relevant right across all faculties and subjects.
Second, it provides a vehicle for the university to reach out to the community to apply and test its knowledge. The doctoral engineering student who seeks to test whether his/her idea works in practice as well as in theory is pursuing the scholarship of relevance and, inevitably, of integration. The department that creates partnerships with key stakeholders in the environment, whether it be the department of theology or geology, is grasping the opportunity for integration and wider learning.
If we allow entrepreneurship to engage across the university, will it not contaminate research and teaching with a business/commercial ethic?
This is a frequently asked question and it deserves a clear answer. The most important response is that entrepreneurship is first and foremost about stimulating enterprising behaviors and designing organisations that allow these behaviors to become an effective means for social and economic development. This is not corporate business. In my view entrepreneurial behavior has its place in all walks of life, from church to school to social services and also to business. Its place in new business venturing is well established and will play a part in any university programme. But to claim a place across all of the university curriculum demands a broader conceptualisation. Such conceptualisation is probably central to acceptance by university staff of all departments and political and ideological outlooks. It is also central for those who are leading the charge to introduce entrepreneurship more broadly into the academic curriculum. Too narrow a focus may mean that in the long run there will be little real progress.
Sumber: http://sciencecareers.sciencemag.org
Garam dan Telaga
Posted by Yafiz
on , under
Inspiration
|
comments (0)
Kepahitan itu, akan menempati sebesar ukurannya sendiri, ia tidak akan menjadi sebesar wadah yang menjadi tempat kita meletakkan segalanya. Juga tidak akan menjadi lebih besar dari wadah itu sendiri. Jadi,ketika kamu merasakan kepahitan yang amat sangat, karena saat itu hatimu hanya seluas gelas air tadi. Tetapi seandainya hatimu seluas telaga ini, kepahitan itu tidak akan kau rasakan.
Di sebuah negeri, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang nampaknya dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan mukanya kusut, dia nampaknya sedang tak bahagia.
Singkat cerita, anak muda tadi menceritakan tentang semua kepahitan hidupnya. Pak tua yang bijak hanya mendengarkan dengan cermat. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta anak muda itu mengambil segelas air dan memintanya untuk mengaduk garam tadi di dalam gelas itu.
“Cobalah minum ini, dan katakan bagaimana rasanya”. Ujar pak Tua.
“Asin, pak. Asin sekali!”, jawab anak muda tadi setelah mencicipi air dalam gelas tadi.
Pak tua lalu tersenyum, ia lalu mengajak tamunya untuk berjalan menuju tepi telaga di dekat rumahnya. Mereka berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang dimaksud.
Pak Tua itu lalu meneburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang kecil di permukaan telaga itu, bermaksud mengaduk garam tadi, sehingga terciptalah riak kecil di permukaan telaga itu. “Cobalah, ambil segelas air dari telaga ini, minum dan bagaimana rasanya?” kata pak Tua itu sambil menyerahkan sebuah gelas kosong kepada anak muda itu.
“Segar!..” sahut anak muda itu setelah meminum air telaga.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, Tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.
Lalu, dengan bijak Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan di tepi telaga. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah tetap sama dan terus akan tetap sama.
“Tapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan menempati sebesar ukurannya sendiri, ia tidak akan menjadi sebesar wadah yang menjadi tempat kita meletakkan segalanya. Juga tidak akan menjadi lebih besar dari wadah itu sendiri. Jadi,ketika kamu merasakan kepahitan yang amat sangat, karena saat itu hatimu hanya seluas gelas air tadi. Tetapi seandainya hatimu seluas telaga ini, kepahitan itu tidak akan kau rasakan. Oleh karena itu, saat ini yang kau perlukan adalah: meluaskan hatimu untuk menampung semua rasa pahit, lapangkan dadamu untuk menerima semuanya.”
Anak muda itu setelah mendengar pendapat bijak dari sang Pak Tua, wajahnya mulai berubah cerah, dia terus mengangguk-anggukkan kepala, tanpa sepatah katapun.
Keduanya lalu beranjak pulang . Mereka sama-sama belajar hari ini.
Dan pak Tua, kembali menyiapkan segenggam garam untuk persiapan kedatangan anak muda lainnya.
Singkat cerita, anak muda tadi menceritakan tentang semua kepahitan hidupnya. Pak tua yang bijak hanya mendengarkan dengan cermat. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta anak muda itu mengambil segelas air dan memintanya untuk mengaduk garam tadi di dalam gelas itu.
“Cobalah minum ini, dan katakan bagaimana rasanya”. Ujar pak Tua.
“Asin, pak. Asin sekali!”, jawab anak muda tadi setelah mencicipi air dalam gelas tadi.
Pak tua lalu tersenyum, ia lalu mengajak tamunya untuk berjalan menuju tepi telaga di dekat rumahnya. Mereka berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang dimaksud.
Pak Tua itu lalu meneburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang kecil di permukaan telaga itu, bermaksud mengaduk garam tadi, sehingga terciptalah riak kecil di permukaan telaga itu. “Cobalah, ambil segelas air dari telaga ini, minum dan bagaimana rasanya?” kata pak Tua itu sambil menyerahkan sebuah gelas kosong kepada anak muda itu.
“Segar!..” sahut anak muda itu setelah meminum air telaga.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, Tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.
Lalu, dengan bijak Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan di tepi telaga. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah tetap sama dan terus akan tetap sama.
“Tapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan menempati sebesar ukurannya sendiri, ia tidak akan menjadi sebesar wadah yang menjadi tempat kita meletakkan segalanya. Juga tidak akan menjadi lebih besar dari wadah itu sendiri. Jadi,ketika kamu merasakan kepahitan yang amat sangat, karena saat itu hatimu hanya seluas gelas air tadi. Tetapi seandainya hatimu seluas telaga ini, kepahitan itu tidak akan kau rasakan. Oleh karena itu, saat ini yang kau perlukan adalah: meluaskan hatimu untuk menampung semua rasa pahit, lapangkan dadamu untuk menerima semuanya.”
Anak muda itu setelah mendengar pendapat bijak dari sang Pak Tua, wajahnya mulai berubah cerah, dia terus mengangguk-anggukkan kepala, tanpa sepatah katapun.
Keduanya lalu beranjak pulang . Mereka sama-sama belajar hari ini.
Dan pak Tua, kembali menyiapkan segenggam garam untuk persiapan kedatangan anak muda lainnya.
INFO BISNIS - UKM: Jualan Kaos Untuk Orang Keren
DESAIN EKSLUSIF - TAK ADA DUANYA,
KECUALI ADA YG NEKAT (GAK TAHU MALU..HE,,HE) NJIPLAK!
KAOS
CODE: DUDE! - HARGA DESAIN: RP. 80.000,- (screen A3, format CDR) atau - PRINTED: 2 KAOS RP. 200.000,- (Unisex Combed) "STATUS: BELUM ADA YANG BELI!!" PS: -PREORDER - kaos baru di cetak klo di order -tulisannya bs dganti nama kalian,, -KALO DAH TERJUAL GAK AKAN KITA PRODUKSI LAGI , DESAIN INI SATU2 NYA DI DUNIA BUAT YG BELI hehe, OK! ^^ Hubungi: 085751200908
HARGA DESAIN: RP. 50.000,- (screen A3, format CDR) - PRINTED: 1 KAOS RP. 95.000,- (Putih, size M/L, 30s/20s) ** Special Price!: 5 kaos = RP. 380.000,-** "STATUS: BELUM TERJUAL!!" ORDER: Hubungi saya! haha ^^ PS: tulisannya bs dganti nama band mu ato ap kek,,haha
PIN
















